Seminar Internasional Pembelajaran Era New Normal

Tidak terdapat yang dapat menjangkakan bila pendemi Covid-19 hendak selesai. Tetapi begitu, sesudah endemi Covid-19 esoknya, new wajar pembelajaran yang sudah diawali sepatutnya diteruskan serta disempurnakan sampai penuhi rancangan blended learning, ialah suatu rancangan pembelajaran yang mencampurkan tata cara kuliah lihat wajah di ruang kategori dengan e-learning alhasil pada gilirannya, bumi pembelajaran hendak betul-betul terletak dalam masa education 4.0. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan mengadakan seminar internasional scopus untuk dapat bedisikusi tentang pendidikan di era new normal.

Terpaut e-learning di akademi besar, bila yang jadi dimensi merupakan bisa dicoba, hingga tidak dapat dibantah kalau seluruh kampus bisa melaksanakannya. Tetapi, apakah mutu e-learning itu bisa terkabul cocok dengan yang diingini? Pasti saja hendak susah dijawab sebab dalam perihal ini mengaitkan banyak aspek, membutuhkan keikutsertaan bermacam pihak, serta wajib direncanakan sebaik bisa jadi. Pada titik ini, pengarang beranggapan, sangat tidak terdapat 6 perihal berarti yang pantas jadi atensi suatu akademi besar dalam menyiapkan e-learning begitu juga yang dijabarkan selanjutnya ini:

Satu, dosen serta mahasiswa wajib tingkatkan keahlian internet serta literasi pc. Sangat tidak, dosen wajib sanggup memanfatkan kanal-kanal yang ada, semacam Learning Management System, alat komunikasi berplatform audio-video, alat sosial dan alat penyimpan informasi yang bisa dipakai menolong terbentuknya aktivitas berlatih membimbing yang bermutu. dengan cara biasa, keahlian internet serta literasi pc mahasiswa lebih bagus dari dosen, alhasil yang jadi estimasi dari bagian mahasiswa merupakan koneksi internet, paling utama di daerah-daerah terasing, terdahulu serta terabaikan, serta sebagian mahasiswa bisa jadi hendak terbebani bila memakai paket informasi.

Kedua, dosen wajib melaksanakan penjajaran konstruktif (constructive aligment) balik kepada keserasian 3 bagian Outcome Based Education (OBE), ialah (1) capaian penataran, (2) kegiatan penataran, serta (3) tata cara asesmen yang sudah disusun dalam Konsep Penataran Semester (RPS). RPS tidak butuh dirubah dengan cara keseluruhan, tetapi lumayan dengan memastikan kembali capaian penataran mana yang bisa di informasikan dengan cara e-learning serta mana yang tidak, karna tidak semua capaian pelatihan dapat terkabul dengan aplikasi e-learning, sejenis kemampuan yang beradat hands on, sangat penting pada program-program studi vokasi. Berikutnya jalani pemetaan balik capaian penataran kepada kegiatan penataran, tercantum determinasi tata cara asesmen yang cocok untuk tiap capaian penataran.

Ketiga, dosen wajib menjamin kesiapan (readiness) modul kuliah dengan perspektif berlatih mandiri” dalam bentuk digital sedemikian muka alhasil mahasiswa gampang menguasai modul kuliah, paling utama bila diserahkan dengan cara luring. Buat matakuliah biasa, dasar kemampuan serta wawasan terapan, penyampaian modul kuliah dalam wujud ijmal kuliah hendaknya dijauhi, hendak lebih pas jika dosen membagikan memo kuliah, pemakaian aplikasi imitasi yang open source, atau rekaman audio-video. Modul kuliah praktek yang memakai toolbox, dosen diharapkan mempersiapkan rekaman bimbingan, buat dipelajari mahasisa dengan cara mandiri.

Keempat, Pastikan periode tiap bagian penataran. Periode penataran akrab kaitannya dengan bobot berlatih mahasiswa (Sudent Learning Time atau SLT) yang didetetapkan dengan jumlah dasar angsuran yang didapat mahasiswa. Buat penataran daring, cermati durasi yang koheren cocok dengan tingkatan pengaturan diri serta keahlian metakognitif mahasiswa. Determinasi periode tiap bagian penataran amatlah berarti, paling utama dalam membagikan kewajiban pada mahasiswa. Kewajiban yang mengambil durasi bisa membuat bobot berlatih mahasiswa jadi jauh lebih besar dari bobot angsuran yang dambilnya.

Kelima, Asesmen dalam wujud cerdas cermat serta kewajiban mandiri yang lain wajib direncanakan sedemikian muka, alhasil mutu pertanyaan senantiasa penuhi taxonomy tingkat yang cocok dengan tahapan program riset. Tes formatif serta sumatif hendaknya senantiasa dicoba dengan cara langsung serta terencana begitu juga metode konvensional yang dipraktekan sepanjang ini.

Keenam, kampus wajib menyiapkan prasarana serta bandwidth yang lumayan bila memakai jaringan kampus. Lonjakan konsumen dengan cara datang-tiba serta konsumsi yang simultan hendak menimbulkan server hadapi bottleneck, hang, sampai down. Tidak hanya itu, kampus wajib memutuskan aplikasi ataupun program yang digunakan buat menjauhi mahasiswa mengunduh serta berupaya sangat banyak aplikasi ataupun program.

Pasti saja akademi besar tidak sekedar menumpukan atensi pada 6 perihal yang dijabarkan di atas. Tetapi, paling tidak dapat jadi tahap dini untuk akademi besar dikala menata e-learning dalam mempraktikkan Blended Learning buat menciptakan Education 4.0 yang hendak jadi New Wajar di masa Industrial Revolution 4.0 sesudah endemi Covid-19 esoknya.

Hubungi Kami:

fkipuki.org

[email protected]

+021-8092425

Leave a Comment